It's more than creative, it's CREATIZZ

Holiday In Action: Ritual Baru (Bali-Lombok 2011)

Buat catatan saja bagi para pembaca, artikel ini berisi cerita saya mengenai perjalanan untuk berlibur ke Bali dan Lombok dengan gaya backpacker, pada awal bulan Juli 2011. (Telat juga saya baru ngepost cerita ini sekarang, but it’s still worth to read)

Mengapa liburan? Pertanyaan pertama,

Mengapa liburan ke Bali dan Lombok? Pertanyaan kedua,

Mengapa saya ganteng dan macho, ibarat Lee Min Ho sesudah operasi plastik pake minyak goreng? (lho??)

Liburan itu penting lho. Karena saya sedang tidak ngapa-ngapain kala itu. Jadi ceritanya setelah saya selesai magang (dan stress gila) di akhir bulan Juni, mulailah terpikirkan untuk refreshing sejenak sebelum berpulang ke Jogjakarta dan disibukkan dengan perkara Tugas Akhir alias skripsi. Rencana punya rencana, salah satu kawan magang saya, yakni Tegar, sudah berencana untuk bersama dua orang teman masa SMAnya untuk berpergian ke Bali. Kenapa ke Bali? Karena ada salah satu teman mereka yang sudah bekerja di BMKG Denpasar, dan mengontrak di kawasan Jimbaran. Jadi selain alasan nostalgia dan liburan, juga karena sudah ada akomodasi penginapan gratis, Bali menjadi pilihan liburan Tegar.

Mendengar itu, saya menjadi tertarik untuk ikut bersama. Namun sebenarnya saya tidak begitu kepengen banget ke Bali. Lah gimana enggak, sejak masa kecil di Surabaya, pasti liburan keluarga dihabiskan di Bali, yang notabene terdapat famili kami yang bertempat tinggal di Denpasar, tepatnya kawasan Monang-maning. Total sudah 7 kali saya ke Bali, dan terakhir kalinya adalah saat studi tur SMP tahun 2006. Intinya sudah bosan pergi ke Bali.

Tapi Tegar bilang begini, “Ntar dari Bali, kita lanjut langsung ke Lombok, mumpung dari Bali jadi lebih dekat. Plus kapan lagi sih kita bisa pergi ke Lombok backpackeran?”

Hooo……Gar, you had a brilliant idea!!

Diputuskan bahwa kami berdua fix untuk berliburan ke Bali dan Lombok dengan gaya backpackeran.

Akhir Juni, sekitar tanggal 24, Tegar bersama satu orang temannya dari Semarang, berangkat ke Bali menggunakan bus AKAP. Saya masih tinggal di Surabaya seorang diri untuk mengurus honor dari PT.Waskita Karya. Setelah honor diterima, inginnya sih saya langsung berangkat dengan akomodasi yang nyaman. Secara, uang lumayan sudah di tangan plus ijin dari orang tua juga sudah di dapat. Tapi kemudian terlintas pikiran hemat nan licik (Paman Gober lewat di otak), “gimana kalo lo berangkat sehemat-hemat mungkin, biar lo bisa senang-senang (baca: minum-minum, ngedrunk, party, hedon) di Bali sama Lombok?” Buset dah, ini otak soal hedon, emang langsung lancar oksigennya yang masuk supaya efektif dalam berpikir soal ginian (buat klarifikasi, otak saya gak di selangkangan).

Akhirnya, saya memesan tiket KA Mutiara Selatan Kelas Bisnis seharga 75 ribu dengan tujuan Ketapang-Banyuwangi. Aslinya sih kepengen naek KA Sri Tanjung, tapi kemudian mikir-mikir kalo ntar gak bisa tidur selama perjalanan. Sebagai info, kedatangan KA Mutiara Selatan dan Sri Tanjung hampir bersamaan di Stasiun Gubeng Surabaya, hanya beda setengah jam. Tapi jam kedatangan di Banyuwangi bisa beda 3 jam, logis bila saya memilih Mutiara Selatan walaupun agak mahal.

Sesampai di Stasiun Gubeng jam 9 malam, KA Mutiara Selatan belum tiba. Yang ada KA Sri Tanjung yang akan diberangkatkan. Sambil ngerokok, saya duduk-duduk menunggu di peron. Bawaan saya juga terbilang ringan, hanya tas ransel sedang merk Bodypack, yang isinya 5 helai baju, 2 celana pendek, sejumlah celana dalam (rahasia ya berapa jumlahnya), dan alat mandi. Kemudian saya juga membawa tas pinggang kecil merk Eiger, yang isinya HP, kamera, Charger, buku travel ke Lombok, plus sejumlah uang receh. Benar-benar bekal perjalanan untuk gaya ransel, sebuah pengalaman pertama bagi saya untuk berlibur.

Sambil menunggu kereta datang, ibu-ibu yang duduk di sebelah saya tiba-tiba tanya ke saya, “Mas, sampeyan nunggu Mutiara Selatan ke Banyuwangi ya?” Respon saya, “Ya bu, ada apa ya?” Balas ibu itu, “Masnya bisa saya minta tolong, ini kakak saya beserta anak-anak saya juga sama naik Mutiara Selatan, jadi saya mau titip mereka ke mas supaya bisa bantu pas keretanya datang” Jawab saya, “Oh iya bu, gak masalah. Ntar saya pasti bantu.”

Begitu ibu itu pergi, dia meninggalkan tanggung jawab untuk menolong seorang ibu agak tua, 3 orang anak kecil, dengan bawaan kardus yang sangat berat (isinya buku pelajaran), kepada seorang asing di peron stasiun. Hehehe orang Indonesia masih percaya tepo seliro itu masih hidup, buktinya saya beneran bantu angkat 2 kardus berat ke dalam gerbong kereta mereka. Setelah mereka sudah mendapat tempat duduk, langsung ibu tua itu nyalami saya dan berterimakasih atas bantuan saya. Ketiga anak kecil langsung mencium tangan saya. Dalam hati, ini ya kenikmatan membantu dengan ikhlas tanpa diduga? Tidak ternilai harganya walaupun tanpa imbalan uang.

Sesudah itu, saya langsung duduk di gerbong dan tempat duduk yang sesuai tiket. Dan langsung terlelap tidur, sampai-sampai tidak tahu kapan kereta berangkat. Belum berangkat dari Stasiun Gubeng, saya sudah begitu menikmati perjalanan liburan kali ini. Bukan senang-senang, melainkan perasaan bahagia bahwa bisa menolong orang lain tanpa pamrih. Dalam hati pun, langsung terbesit, pokoknya liburan gaya backpacker seperti ini harus menjadi ritual baru dalam kehidupan saya. Karena banyak pengalaman berharga yang bisa saya dapatkan selama perjalanan tersebut.

Akan berlanjut di postingan berikutnya…….berangkat menuju Bali!!! (eeh, ke Banyuwangi dink)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s