It's more than creative, it's CREATIZZ

Film “?”, Ketika Perbedaan Berani Diusung Keluar

Sebuah film terkadang menjadi sebuah pertanyaan. Tentu saja bagi yang menonton. Suatu judul film akan menjadi pertanyaan bagi penonton untuk menemukan esensi atau inti cerita dari film tersebut. Maka yang terjadi setelah menonton film tersebut, penonton akan menemukan jawaban dari judul film tersebut.

Poster Film "?"

Film dengan isu yang sensitif

Film “?” Tanda Tanya mengarahkan penonton dari awal untuk bertanya. Bahkan judul film ini belum ada, untuk sementara ini “?”. Hanung Bramantyo dengan lugas memberikan judul “?” agar penonton mampu menjawab pertanyaan yang tersirat dalam alur cerita film itu. Melebihi itu, Hanung bermaksud memberikan pertanyaan kepada para penonton, khususnya masyarakat Indonesia, mengenai perbedaan dan pluralitas Indonesia. Dibandingkan judulnya, saya memberikan jempol kepada Hanung dalam membuat tag film tersebut.

“Masih pentingkah kita berbeda?”

Saya secara pribadi merasa tersentak. Inilah pertanyaan yang terus terkubur, bukan hanya dalam diri saya, juga dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Harus diakui masyarakat Indonesia sebenarnya mempunyai relung kosong di dalam jiwa sosialnya. Masyarakat Indonesia dewasa ini merasa semua perbedaan harus dikubur dalam-dalam. Perbedaan itu ada, namun tak diakui. Mengapa? Karena kaum yang berbeda atau minoritas sudah lelah dengan banyaknya ancaman dari kaum mayoritas. Dan itu telah dibuktikan dengan mundurnya toleransi beragama dalam hal praktik di kehidupan.

Apabila sang sutradara Hanung Bramantyo ingin melontarkan pertanyaan pada setiap penonton mengenai perbedaan, maka saya bisa memberikan jawaban. Jawaban bagi diri saya sendiri. Sebagai seorang nasrani, saya selalu dibesarkan di tengah lingkungan kristiani. Mulai dari sekolah hingga lingkungan rumah. Namun seiring waktu, pribadi saya mulai hadapkan pada realita perbedaan di Indonesia. Berbekal semangat Man for Others dari SMA saya (SMA Kolese De Britto), saya memilih Universitas Gadjah Mada sebagai lahan untuk bertumbuh. Saya sadar konsekuensi dari pilihan tersebut adalah harus bergaul dengan lingkungan yang dominan muslim. Ketakutan itu ada, saya tidak diterima dalam lingkaran pergaulan. Namun 3 tahun berlalu, saya memiliki teman-teman terbaik yang menerima saya apa adanya. Mereka menilai pribadi, bukan dari agamanya, melainkan dari kualitas dan sifat seseorang.

Perbedaan itu memang ada, namun janganlah kita menghindar. Jangan anggap perbedaan itu menjijikkan. Karena Tuhan menciptakan dunia ini dengan penuh perbedaan. Tidak salah bila Tuhan menginspirasi Bung Karno untuk menciptakan falsafah Pancasila. Indonesia harus bangga dengan keberagaman penduduknya. Karena inilah identitas kita di mata dunia.

Sungguh, film “?” adalah sebuah film yang menggugah. Berani mengusung perbedaan sebagai ide ceritanya. Membenturkan kaum-kaum yang berbeda secara agama dalam alur ceritanya. Bukan tampang aktor/aktrisnya, bukan efek spesialnya, bukan pula bujet yang besar, bukan itu semua yang ingin dikemukakan dalam film ini. Melainkan sebuah pertanyaan kepada bangsa Indonesia. Sebuah pertanyaan sederhana, namun sarat makna. Dan tak perlulah pusing mencari jawabannya. Karena sudah ada dalam diri kita masing-masing.

“Masih pentingkah kita berbeda?”

…….Ya

2 responses

  1. asal

    sekali berbeda tetap berbeda,dan itu wajar,tinggal kita harus menyikapix dgn baik…dan pertanyaan anda,apakah qt harus berbeda?qt memang berbeda.dan akan tetap berbeda…
    Tp film ini berbahaya bagi generasi muslim,karena mengusung liberalisme agama…bagi anda mungkin tdk apa2,tp tdk bwt kami…contoh: dlm film itu ditunjukkan muslim yg murtad,dan dia tdk merasa brsalah sama sekali.sbagai org berpendidikan dan punya perasaan anda pasti sadar ini punya pengaruh,sedikit atw banyakx…

    April 30, 2011 at 5:59 am

    • @asal
      liberalisme agama (dalam hal ini, Islam) menurut saya adalah suatu konsep agama yang terburu-buru dan dipaksakan oleh beberapa kalangan. Memang benar bila liberalisme semacam itu harus dibatasi (dan saya mendukung usaha tsb), terlebih lagi banyak norma-norma agama yang sudah benar, dipaksakan untuk diubah seenaknya.
      Untk kaitannya dengan ditunjukkannya muslim murtad dalam film, kemudian tidak merasa bersalah, mungkin harus disikapi dengan pandangan positif. Sebab film tsb menunjukkan tokoh tersebut berpindah agama karena keinginannya sendiri, bukan dipengaruhi oleh orang lain (bila ada usaha misionarisasi yg ditunjukkan dalam film itu, maka saya pribadi tidak setuju).
      Hanya pesan saya, jangan melihat film ini sebagai usaha untuk melecehkan suatu agama. Tapi untuk menggambarkan bahwa sikap toleransi beragama harus hidup di antara masyarakat kita.
      Terima kasih atas pendapatnya

      April 30, 2011 at 6:08 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s