It's more than creative, it's CREATIZZ

Ir. Teddy Boen: Lekat Dengan Heritage Building

Mohon dibaca judul artikel ini dengan jelas, bahwa saya tidak akan membahas yang namanya makhluk atau benda yang bermuka beruang, berbulu halus dan lucu. Apalagi membahas mantan presiden AS ke 26 dengan nama panggilan yang cukup sama.

Tidak dab. Saya dedikasikan artikel ini kepada seorang yang sudah lekat dengan bangunan, baik memiliki history maupun konstruksi baru (biasanya orang mendedikasikan pada orang yang dicintai, artinya saya emang beda……).

Siapa sih Teddy Boen? Bener gak sih namanya pake Teddy?

This slideshow requires JavaScript.

Hanya Tuhan dan ortu beliau yang tahu mengapa beliau bernama Teddy. Biasanya Teddy itu panggilan dari Mas Theodore (sebenarnya gak usah pake embel-embel Mas sih), tapi saya sendiri juga tidak tahu siapa nama lengkapnya. Coba aja deh cari lewat Mbah Gugel (yang konon sama saktinya dengan Mbah Rono), anda tetap saja tidak akan mendapat nama lengkap beliau. Bila anda bisa mendapat nama lengkap beliau, berarti anda sama-sama bernasib untuk bernama Teddy.

Saya pertama mengenal Bpk Ir.Teddy Boen dari sebuah film (sekali lagi, ini artikel serius jadi tidak ada kaitan dengan film syur koleksi saya). Film yang saya maksud adalah film Membangun Rumah Tinggal Sederhana Tahan Gempa produksi Departemen Pendidikan Nasional (Bukan produksi Naughty America!!!!). Setelah pembuka film yang menerangkan pendahuluan, muncullah seorang pria yang nampak sudah lewat paruh baya. Pria tersebut benar-benar mempunyai rupa yang telah mengincipi asam-garam kehidupan (dan asam-garam beneran!!). Dikenalkan oleh narator sebagai Ir.Teddy Boen, anggota dari WSSI (apa itu, saya juga belum tahu waktu itu, yang saya tahu cuma TRASSI buat nyambel). Anda boleh nyari lewat jampinya Mbah Gugel, tapi bakal menemukan banyak definisi (mulai dari Wetland Studies and Solutions Inc sampai Warta Setan Sekarat Indonesia).

Tapi sebenarnya WSSI adalah World Seismic Safety Initiative, sebuah lembaga di bawah International Association for Earthquake Engineering (IAEE). WSSI merupakan NGO yang berorientasi non-profit untuk membantu sebuah negara dalam mengurangi resiko bencana gempa bumi lewat rekayasa konstruksi. Dan Ir.Teddy Boen adalah penggerak WSSI di Indonesia dan telah bergerak ke seluruh lokasi bencana gempa bumi di Indonesia sejak tahun 2000. Film yang dibuat oleh Depdiknas kala itu merupakan bagian dari program WSSI  bekerja sama dengan UGM, khususnya Jurusan Teknik Sipil & Lingkungan, untuk mensosialisasikan dan mendidik masyarakat mengenai pentingnya rumah tahan gempa.

Saya pertama kali bertatap muka (dan bersentuhan kulit…..aiihhh…….halah, cuma bersalaman) dengan beliau ketika Workshop Mengenai Retrofitting Bangunan Sekolah di Yogyakarta, 15 Desember 2010. Workshop tersebut dihadiri oleh guru-guru SD di DIY serta SDM Konstruksi DIY. Ketika itu beliau memaparkan presentasi mengenai pentingnya retrofit pada bangunan lama. Sebenarnya retrofitting (bukan kamar pas fitting room untuk mencoba baju retro) merupakan usaha rekayasa terhadap bangunan lama yang mengalami kerusakan, baik ringan hingga berat, pada unsur struktural bangunan tersebut. Tujuan retrofitting adalah mempertahankan bentuk bangunan lama tanpa menghancurkannya dan memperbaiki pada segmen struktur yang rusak saja. Dengan begitu, secara biaya menjadi lebih murah dan menjaga kelestarian bentuk bangunan, terutama bangunan lama bersejarah.

Di salah satu presentasi tersebut, terdapat banyak slide dimana menampilkan foto-foto (Bukan!!! Bukan foto-foto Sora Aoi lagi nude!!!). Foto-foto yang ditampilkan adalah proses retrofitting sekolah dan gereja di Padang. Mulai dari kondisi awal sekolah setelah rusak terkena guncangan gempa Padang, hingga berbagai gereja peninggalan kolonial Belanda juga di Padang. Hingga kini, saya masih mencari tahu foto-foto dari sekolah dan gereja yang rusak tersebut.

Sebagai gambaran, inilah daftar sekolah dan bangunan-bangunan lain yang rusak, tetapi telah diretrofitting oleh Ir.Teddy Boen.

1. Gempa Bengkulu tahun 2000

  • Sekolah Dasar Bengkulu
  • Kantor Pos Bengkulu

2. Gempa dan Tsunami Aceh tahun 2004

  • Kantor Gubernur NAD
  • Gereja Hati Kudus

3. Gempa Padang tahun 2009

  • Masjid Al-Munawwarah
  • Rumah Rakyat Balai Baru
  • SMAN 10 Padang
  • Gereja Katolik Padang
  • Kapel St.Leo Padang
  • Sekolah-sekolah lain di Padang

Beliau memaparkan presentasinya dengan semangat dan gaya bicara yang santai. Anda tidak akan menduga lulusan ITB ini telah berumur di atas 60 tahun, dengan segala prestasinya dalam melestarikan bangunan bersejarah. Bagi beliau, bangunan bersejarah atau Heritage Building merupakan salah satu bukti sejarah mengenai perkembangan konstruksi di Indonesia. Beliau selalu berkata bahwa peninggalan Belanda hingga kini belum ada tandingannya, walaupun usianya sudah ratusan tahun.

Beliau juga mengkritiki bahwa proses birokrasi di Pemerintah adalah halangan bagi pihak-pihak yang ingin segera membangun ulang bangunan yang rusak setelah terkena bencana. Oleh karena itu, beliau lebih baik memegang kendali dengan dana luar secara swadaya untuk membangun, terutama retrofitting. Baginya usaha swadaya lebih baik dan cepat. Contohnya SMAN 10 Padang, dibangun dengan dana dari Jakarta Japan Club, bukan bantuan Pemda atau Pusat. Dan beliau sendiri yang benar-benar memegang kendali di lapangan, bukan orang lain. Hal itu bertujuan untuk mencegah godaan korupsi bagi orang lain.

“Tender itu untuk mencegah korupsi kan? KORUPSI ITU NIAT”, tutur beliau di hadapan peserta dari Dinas PU Provinsi DIY. ” Dengan aturan seketat apapun, Gayus saja bisa punya milyaran di saldonya.” Itulah gaya beliau menyindir parahnya birokrasi dan sistem pemerintahan sekarang.

“Kontraktor itu gak usah dikasih tender. Cara paling tepat itu ya ngajari rakyat bangun yang benar, awasi pekerjaannya, dan awasi uangnya.”

“Mahasiswa itu harus berperan aktif, apalagi saya sebentar lagi MPP alias Mati-Pelan-Pelan.” tukas beliau dalam bercanda.

Komentar beliau yang sangat berkesan bagi saya adalah:

Ilmu (maksudnya konstruksi bangunan) ini saya peroleh dengan susah payah bukan untuk saya cari makan.

Ilmu ini untuk dibagikan. Saya dapat makan, itu cuma bonus kok.

Terus terang saya tersindir. Karena selama ini saya mengejar ilmu adalah untuk mengejar profesi dan tempat di pekerjaan saya kelak. Tetapi beliau mempunyai sudut pandang yang hanya dimiliki oleh segelintir orang di Indonesia ini. Mahasiswa saat ini hanya bersiap untuk menjadi sapi perah lapangan pekerjaan atau mengejar uang. Tapi bagi para pendiri bangsa yang pernah menjadi mahasiswa, berbakti pada rakyat adalah alasan mengapa mereka dipanggil maha-siswa bukan siswa. Kita sebagai mahasiswa Indonesia akan malu sendiri melihat seorang Teddy Boen di usia senjanya, masih berkarya di bidang sosial. Beliau sepanjang hidupnya, akan selalu lekat pada pelestarian heritage building.

One response

  1. ixchel

    Saya mengenal beliau dan pernah bekerja bersama beliau…..benar pemaparan anda mengenai beliau…orangnya berilmu tetapi sangat sederhana, beliau selalu membagi ilmunya bagi kami mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah..selayaknya seorang ayah yang menuntun anaknya untuk menjadi orang berpendidikan…
    salut dengan semangat pak Teddy Boen…

    April 8, 2011 at 8:39 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s