It's more than creative, it's CREATIZZ

Pengalaman Pribadi

Working In Action: Foto-Foto Keseharian di Tambang

image

P5M (Pertemuan 5 Menit) Tiap Pagi

 

Survey Tambang

Barging Ke Tongkang

 

Unit HD 785 Sedang Service

image

Persiapan Operasi Hauling

image

Persiapan Operasi Penyiraman

image

Maintenance Kolam Outlet Gorong-Gorong


Working In Action: Kalimantan, Tanah Harapan

Kalimantan. Pulau terbesar di Indonesia. Berisikan berbagai macam sumber daya alam yang melimpah dan tak ada habisnya. Surga di bumi khatulistiwa, menjadi istilah tepat bagi pulau ini. Lebatnya hutan saat dipandag dari udara laksana karpet hijau. Indonesia beruntung memiliki pulau ini.
Ironisnya, jumlah penduduk Kalimantan tidak berbanding lurus dengan besarnya atau luasnya tanah. Semua orang malah berebut sepenggal kecil tanah di Jawa. Sedikit juga hitungan/presentase orang Jawa yang merantau ke Kalimantan. Orang Jawa terbanyak adalah transmigran sejak jaman Orde Baru. Seharusnya Kalimantan menjadi tanah perantauan utama bagi orang Jawa atau Sumatera. Eksploitasilah pulau ini. Tidak ada yang salah dengan mengeksploitasi harta Indonesia ini. Bahkan kita bisa memajukan daerah Kalimantan dengan merantau kesana.

image

Kenapa saya berbicara mengenai Kalimantan? Karena saya merupakan seorang perantauan di tanah Borneo tersebut. Saya mencoba memeras keringat dengan bekerja di perusahaan tambang batubara, PT. Pamapersada Nusantara (PAMA). Site tambang tempat saya beroperasional adalah site KCMB di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. PAMA mengambil fungsi sebagai kontraktor atas joint site yang dimiliki oleh PD. Baramarta dan PT. Prima Multi Mineral (PMM). Uniknya PMM adalah anak perusahaan PAMA yang bekerja sebagai trader batubara. Jadi site KCMB bisa dikatakan sebagai tambang PAMA sendiri.

image


My New Career

image

Karena suatu hal, akhirnya saya memutuskan keluar dari pekerjaan kontraktor bangunan. Dan kini, saya bergabung dengan PT. Pamapersada Nusantara semenjak April 2012!
Perusahaan ini, atau lebih dikenal dengan nama PAMA, merupakan perusahaan kontraktor tambang, khususnya penambangan batubara. Berdiri sejak 1993, PAMA menjadi salah satu kontraktor tambang terkemuka di dunia. Bahkan bisa dikatakan “number one’s coal mining contractor” di Indonesia. Itulah yang menjadi ketertarikan saya untuk bergabung dan mendaftar di posisi Group Leader Operation Division. Walaupun sekarang dalam masa trainee hingga April mendatang, tapi saya mulai menyukai sistem dan cara kerja di perusahaan ini. FYI, PAMA merupakan anak perusahaan PT. UNITED TRACTOR (UT), yang notabene berinduk pada PT. Astra International, Tbk. Embrio PAMA sudah ada sejak 1976, dimana memulai sebagai rental division UT. Berkembang pesat, hingga memiliki 5 anak perusahaan, di antaranya KPP (Kalimantan Prima Persada), PMM (Prima Multi Mineral), MPU (Mitra Persada Utama), dll.


Working In Action: Cari Makan Murah di Mall Jakarta

Mall-mall atau pusat perbelanjaan di Jakarta menawarkan banyak sekali jenis makanan dari berbagai belahan dunia. Namun untuk menikmati semua itu, tentu saja semua restoran itu memasang tarif mahal. Karena mahal itu relatif, maka standar mahal adalah di luar jangkauan orang kantoran biasa seperti saya ini. Di atas 50 ribu rupiah untuk sekali makan dalam sehari sudah merupakan kategori mahal. Oleh karena itu kita harus pintar-pintar memilih restoran di mall, agar bisa menikmati makanan enak tapi terjangkau (atau murah).
Rekomendasi saya adalah Shihlin Taiwan Street Snacks. Untuk paket nasi dengan chicken crispy hanya 25 ribu rupiah. Tapi itu belum termasuk minum. Adapun saat saya makan siang di Mall Central Park, Shihlin menjadi pilihan saya. Cukup enak dan mengenyangkan. Banyak menu makanan lain yang ditawarkan oleh restoran ini seperti Seafood Tempura, XXL Crispy Chicken, dan yang paling Ketela manisnya. 10 ribu sudah dapat sebungkus berisi banyak potongan ketela garing nan manis.
Kalo untuk minum, biasanya saya cari di tempat lain yang mengkhususkan menjual minuman. Supaya dengan harga sama, saya bisa mendapat porsi minuman lebih besar. Atau paling murah, saya tinggal beli aqua di Carefour. Jadi makan di mall sebenarnya tidak mahal-mahal amat. Tinggal pintar-pintarnya kita saja kok. Tapi kembali pada prinsip saya, saat bersama kawan atau keluarga, gak usah cari murahnya, tapi cari enaknya. Mahal gak apa-apa, yang penting puas!

image


Holiday In Action: Gili Trawangan, Lombok


Holiday In Action: Perjalanan Ke Pantai Indrayanti

Sekedar menambahkan hasil editan video dan foto-foto dari perjalanan saya tahun lalu ke Pantai Indrayanti. Semoga bisa menambahkan referensi anda untuk memilih tempat liburan. Seperti kata iklan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, “Kenali negerimu, jelajahi negerimu”

 


Tahun Baru 2012: Akhir dan Awal Yang Manis

31-12-2011
11.30 WIB

House of Beer, Jogjakarta

Layaknya orang lain, saya seperti diburu nafsu untuk mencari tempat atau spot yang enak bersama teman-teman menunggu waktu pergantian tahun. Dengan terburu-buru seperti dikejar setan (persis klo dikejar debt collector juga), motor supra125 saya geber sekencang mungkin ke arah jalan affandi untuk memesan meja kosong di rumah makan Wisata Kuliner. Untung tak dapat diraih, semua kursi sudah diduduki. Yang kosong hanya meja saja, itupun tinggal satu buah. Padahal kelima teman saya sudah mau menyusul ke tempat itu. Sial, keluh hati saya. Padahal sudah nemu tempat enak, ada live musicnya, plus akan ada firework party menjelang countdown. Saya pribadi menyalahkan teman-teman saya itu. Sudah saya ajaka mereka sejak jam 10 untuk bergegas mencari tempat nongkrong yang enak, malah masih nonton film The Dark Knight di Trans TV sampai selesai. Pakai acara mengeluh lagi soal jalanan macet. Ya ampun, kalo mau cari kesenangan ya pasti ada resikonya, masak mau enaknya aja -___-

Kemudian dengan sedikit paksaan (dan banyak ancaman), akhirnya mereka mau juga bergerak. Padahal tinggal setengah jam lagi menjelang jam 12.00. Kalo sampai kelewatan momentumnya, bakal gua obrak-abrik kamar mereka, begitu hati saya (lebih tepatnya, setan saya) berbicara. Begitulah cerita saya berawal hingga berlanjut mengetahui bahwa di lantai 3 atau atap dari Wisata Kuliner terdapat skydining resto bernama House of Beer. Begitu saya naik ke atas, ternyata lumayan ada beberapa kursi kosong. Akhirnya gak sia-sia juga punya niat cari tempat pewe. Sambil menunggu teman-teman saya tiba, bir bintang botol kecil saya pesan dan menikmati suasana yang cukup meriah ini. Begitu kelima teman saya datang, kembang-kembang api di sekitar tempat kami bermunculan. Karena posisi di lantai 3, kamipun dapat melihat langit Jogja yang dipenuhi kembang api. Mulai dari arah timur, selatan dimana terdapat alun-alun, tempat berpusatnya warga Jogja berpesta pergantian tahun, hingga sekitara jalan Affandi atau Gejayan. Sang cewek vokalis band di bawah mulai menghitung waktu mundur, dan begitu 3……..2………1………!!!!!!! HAPPY NEW YEAR!!!!!!!!

Pesta kembang apipun dimulai menandakan 2012 juga dimulai, sambil diiringi lagu “Auldlang syne”.

01-01-2012
01.30 WIB
Tugu Jogja

Entah roh apa yang merasuki saya (bukan, ini bukan adegan film Kuntilanak Kesurupan), saya punya niatan untuk melihat suasana di Tugu Jogja. Dan hasilnya adalah terjebak dalam kemacetan super parah. Mobil dan motor seperti membentuk lautan sepanjang Jalan Sudirman hingga Tugu. Dan semua kendaraan dalam keadaan berhenti, tiada gerakan maju. Keberadaan polisi, walau cukup membantu mengurai kemacetan, namun jumlah motor dan mobil sudah tidak seimbang dengan kapasitas arus jalan raya. Herannya, masih ada saja orang-orang yang ingin enaknya (istilahnya wong jowo, golek penak dewe) merebut alur jalan sebaliknya. Entah mereka ingin memotong lajur atau berbalik arah, tapi malah semakin membuat macet Jalan Sudirman terutama dekat jembatan kali code. Ribuan orang juga ikut memadati pinggiran jalan sehingga menambah hambatan bagi arus kendaraan. Perlu 45 menit bagi saya yang berkendara dengan motor untuk mencapai posisi Tugu dari Jembatan, yang hanya berjarak 1 kilometer.

image

Begitu sampai di Tugu, yang ada hanyalah kumpulan manusia, yang menurut saya adalah manusia tak bertanggungjawab. Lihat saja foto di atas dimana dengan enaknya, mereka duduk-duduk di sekitar Tugu dan tidak peduli dengan kemacetan. Atau lebih parahnya, mungkin mereka juga ikut menambah kemacetan. Sampah-sampah juga dibuang begitu saja di jalan.

Saya sebagai orang asli Jogja sudah merasa sikap para wisatawan yang berkunjung kelewatan. Mereka hanya berpikir untuk dirinya sendiri. Sayapun sempat mengobrol dengan seorang polantas, yang mana beliau bersama polantas lainnya sudah mengatur kemacetan sejak jam 21.00. Petugas ini juga sempat curhat bagaimana tugasnya mengharuskan dia bekerja di waktu orang-orang lain bisa berkumpul bersama keluarga masing-masing. Seorang polisi juga manusia, merekapun berkeluarga dan juga ingin menikmati masa-masa seperti ini layaknya orang lain. Salut kepada polisi Indonesia yang melayani tiap saat!!! Terkutuklah polisi pemalas dan korup!!!

imageSayapun tiba di rumah jam 02.40. Rumah juga sepi sebab keluarga saya sedang berlibur. Walau ada rasa kesepian, tapi saya tidak menyesali malam ini. Akhir tahun 2011 ini saya rayakan dengan pengalaman yang cukup manis namun mengesalkan. Tapi dengan mulainya tahun 2012 ini, saya makin berharap seperti apakah pengalaman unik lainnya yang bisa saya dapatkan……..

CREA mengucapkan kepada seluruh masyarakat di Indonesia, SELAMAT TAHUN BARU 2012! Let’s make this year a happy moment again!


Holiday In Action: Lombok Tersembunyi di Gunung Kidul

Kalo kita, orang Indonesia, membicarakan pantai yang mantab dan joss (definisi ilmiahnya: berpasir putih, air laut biru nan jernih, dan bersih dari sampah), mungkin kita akan selalu membicarakan pantai di Nusa Tenggara Barat, Wakatobi, atau Raja Ampat. Namun lebih menyesakkan dada setelah diketahui bahwa rata-rata pantai terbaik se-Indonesia merupakan private beach bahkan private island yang dimiliki oleh orang asing. Jiwa nasionalisme dalam diri kita tentu akan menangis ketika mendengarnya. Apakah pemerintah yang perlu disalahkan, atau kita sendiri, masyarakat Indonesia, yang tak peduli dan membiarkan saja dengan sikap…….“bukan urusanku!!!”

Bagi saya pribadi, seorang crea, pantai yang benar-benar terbaik dan indah berlokasi di Lombok. Hanya di sanalah, saya bisa berenang di laut biru yang jernih, berlantaikan pasir putih, beratapkan langit biru, dengan ombak yang tenang, sepi dari turis berisik (dan anak-anak kecil perusuh) serta bersih. Liburan saya benar-benar sempurna kala itu. Namun Lombok merupakan tempat yang jauh dan sangat mahal untuk ukuran objek wisata lokal. Belum lagi, waktu kosong untuk berlibur yang sangat jarang, benar-benar membuat diri saya mendambakan supaya Lombok bisa digeser ke selatan Jogja :P

Tapi bulan lalu, Agustus 2011, saya menemukan sebuah kejutan. Dalam rangka mencari tempat untuk makrab (malam keakraban) angkatan Jurusan, saya menemukan informasi mengenai sebuah pantai di daerah Gunung Kidul dengan jarak kurang lebih 2 jam dari Jogja. Nama pantai tersebut adalah Pantai Indrayanti.

Ketika saya dan 3 kawan mensurvei ke pantai tersebut, benar-benar menjadi sebuah kejutan. Biasanya kami, orang Jogja, hanya mengenal pantai Parangtritis atau Kukup, dan Baron juga. Dan ketiga pantai tersebut benar-benar jorok! Pasir pantai yang hitam, banyak sampah, ombak yang besar, banyak pengunjung, terutama yang membawa anak-anak kecil, serta kios-kios dagangan yang semrawut dan tak tertata. Rasanya ingin teriak dan misuh ketika di pantai-pantai tersebut. A*uu kabeh……!!!

Namun pantai Indrayanti berbeda dari ketiga pantai yang telah disebut. Saya seperti menemukan Lombok yang tersembunyi. Pasir putih, air biru nan jernih, semuanya yang ada di Lombok tersaji di depan mata ini kala itu. Belum lagi ada resort gaya Bali serta kafe pinggir pantai. Komplit sudah. Dan membuat ngiler adalah pantai ini masih sepi!

Jadi Pantai Indrayanti adalah pantai pribadi milik perseorangan. Tapi pantai ini milik orang lokal, dimana kebersihan dan perawatannya melibatkan penduduk sekitar. Terdapat satu kafe, 3 resort dengan kapasitas berbeda, serta camping area. Harga yang ditawarkan untuk menginap beranekaragam tergantung kapasitasnya. Untuk satu kamar 5 orang, seharga Rp 350.000/malam. Untuk yang isinya 10 orang, seharga Rp 750.000/malam. Memang mahal untuk ukuran Jogja. Namun setimpal dengan fasilitas yang ditawarkan. Semua resort didesain dengan sungguh-sungguh, bukan asal-asalan. Bergaya Bali semua dengan dominasi material kayu. Menarik bukan?

Kebersihan menjadi objek yang ditonjolkan untuk dijual ke pengunjung. Benar-benar bersih tanpa sampah, baik organik maupun non-organik. Dan sudah disediakan tempat sampah di berbagai titik. Jadi tidak ada alasan untuk membuang sampah sembarangan. Bila anda adalah pengunjung yang nakal dan coba-coba membuang sampah, anda akan didenda Rp 10.000 untuk satu benda sampah! Sudah mengadaptasi hukum Singapura rupanya. Sepertinya kelewatan, tapi demi kebersihan pantai, sangatlah wajar untuk diaplikasikan. Apalagi mental orang Indonesia yang nakal dan tak peduli terhadap hukum.

Berikut foto-foto yang saya miliki.


Holiday In Action: Visualisasi Pantai Gili Trawangan-Lombok


Warnet: Internet Merakyat ala Indonesia

Sebelum saya memposting artikel berisi rincian cerita liburan ke Bali-Lombok part 2, yang mana part 1 isinya juga gak penting-penting banget (ada temen malah bilang, gak asik ah isinya). Kalo sudah dapat komen begituan, biasanya sudah saya pasang tweet “-________-” di twitter (desperate mode:on).

Ini cerita saya mengenai warnet. Tahu warnet? Setiap orang di Indonesia sepertinya sudah tahu apa itu warnet. Untuk generasi saya (ya generasi anak gaul jaman 2004), warnet berasa oasis di tengah dahaga supaya melek teknologi. Jaman SMP tahun 2003, warnet itu masih asing bagi saya. Gak pede. Takut. Dan seribu alasan lainnya. Bahkan internet itu apaan saja belum ngerti (kuper banget ye….).

Pertamanya ke warnet (deket rumah) itu hanya satu alasan. Penasaran anatomi tubuh manusia, khususnya wanita (bahasa sudah disensor demi kepentingan anak kecil yang mencari keyword “cewek telanjang” di warnet. Ya itu kamu cah…..iya kamu yang lagi bengong, cari bokep malah nyasar ke blog gw…….hush pergi sonoh!!). Warnet langganan saya itu gabung jadi satu dengan gamenet, tapi bilik warnetnya lebih sedikit dibandingkan komputer untuk ngegame. Dan hebatnya lagi warnet ini juga nyambung sama wartel. Dan yang lebih heboh lagi, sekarang gabung sama laundry plus studio musik kecil. Seharusnya dipasang papan namanya “Warneteldrisik” (Warung-Internet-Telepon-Laundri-Musik). Gaya banget ya yang punya tuh warnet. Entah gak kreatif atau pengennya kelihatan enterpreneur, terserahlah. Bicara soal fasilitas, warnet ini punya fasilitas paling lengkap…..untuk daerah pinggiran Jogja. Bilik 1×1 m, komputer dengan prosesor yang bootingnya butuh 5 menitan, windows 2000, casing CPU putih, cooling fan buat CPU yang berisiknya ngalahin suara fax masuk, dan cuma ada lubang floopy disk, belum ada USB port. Keren kagak? Warnet ini satu-satunya warnet sepanjang Jalan Godean di Jogja, tanpa saingan selam 5 tahun!!

Bicara soal internet, tentu saja kita berbicara browser. Itu saja saya mencoba buka website masih pake internet explorer versi 3! Kecepatan warnet saat itu? Beuh……dengan bangganya warnet ini memasang spanduk di depan “Sekarang dilengkapi kecepatan internet tanpa batas……128 kbps!!!” -____-

Dan waktu itu belum ada social network, semacam facebook dan teman-temannya. Dan benar kata orang, sebelum mulai trending social network, 80% keyword search di Google adalah “PORN”. Jadi sepertinya saya punya alibi, kenapa dulu kecil sudah murtad nan mesum :p

Walaupun banyak perbedaan dengan generasi warnet masa kini, ada satu persamaan. Khususnya gamenet. Gak dulu, gak sekarang, banyak anak SD keleleran di sekitar orang maen game, cuma buat ngelihatin dan cuma bikin rame ga jelas!! Yang paling seru jaman itu gamenya, tentu saja CS “Counter-Strike”, sudah gratis, bunuh-bunuhan, dan very highly addicted game. Kalo sekarang, sepertinya CS sudah tergerus oleh Point Blank, CrossFire, dan sejenisnya. Tapi dewasa ini, anak-anak SD gak jelas itu sepertinya sudah upgrade (dalam mengganggu orang). Agak modalan, mereka mulai ngrusuhin PB dengan segala gayanya. Ngecheat, ngomong kasar, tidak sportif, dan lain-lain. Aduh….aduh….cah…cah, kenapa sih gak maen permainan seperti jamanku dulu, macem petak umpet, gobak sodor, benteng-bentengan.

Kembali lagi ke masalah warnet. Waktu jaman saya KKN setahun lalu, di desa saya ada satu warnet. Dan saya sama sekali tidak menyangka bakal nemu lagi kembaran warnet jaman saya SMP!! Persis dengan segala fasilitasnya, macam ukuran bilik, CPU, kecepatan internet, dan tentu saja………….para anak SD ababil pengacau itu. Semacam kutukan buat saya masalah anak SD ini -____-

Padahal bisa saya katakan, warnet-warnet di Jogja sudah berkembang pesat dengan segala fasilitasnya. Pengunjung warnet benar-benar dimanjakan, mulai dari bilik yang leluasa, kursi empuk, desain interior yang stylish dan modern, OP warnet yang profesional, komputer paling canggih, dan kecepatan internet yang lumayan kenceng. Bahkan fasilitas untuk WiFi sepertinya mulai lumrah untuk dipasang. Bahkan hampir seperti kafe bila tidak berlebihan untuk disebut. Warnet bukan lagi tempat cari bokep (walaupun sebenarnya masih………dan selamanya akan selalu begitu!!), melainkan sebuah tempat bagi kawula muda untuk nongkrong, pamer laptop, dan menghabiskan waktu. Bagi mahasiswa, cerita warnet akan berbeda. Warnet adalah sumber ilmu tanpa batas, goa berdiamnya Mbah Gugel, dimana dengan membayar 3000 rupiah per jam, bisa mengcopy paste semua artikel yang bisa ditemukan tanpa diedit untuk dimasukkan dalam tugas dosen esoknya. Perpustakaan? Gak jaman lagee…..

Intinya, warnet telah menjadi bukti bahwa rakyat Indonesia mulai melek akan teknologi. Bahkan tukang parkir saja bisa punya akun facebook dan twitter (no offense bro). Warnet telah menjadi saksi sejarah betapa merakyatnya internet di Indonesia. Tak butuh uang banyak, hanya sekedar 2-3 ribu per jam (dari jaman SMP sampai saya lulus kuliah), we are connected to the world!!! Walaupun modem murah mulai secara perlahan mencekik pasar bisnis warnet, rakyat di pelosok desa masih akan menggantungkan pada keberadaan warnet. Betapapun memprihatinkannya fasilitas warnet, betapapun menyebalkannya perilaku para ababil anak SD, betapapun terbatasnya kecepatan internet, rakyat Indonesia akan selalu mencari warnet. Bahkan saya akan selalu mencari warnet, biarpun nantinya di masa depan saya sudah punya modem super kencang, laptop canggih, dan segala kemewahan, warnet akan selalu ada dalam hati saya (lho?).

Fact Info: Warnet andalan saya dari SMP sampai sekarang, walaupun sudah berevolusi dengan segala kecanggihan masa kini, spanduk “128 kbps” masih tetap dipasang……….tapi ditambahin angka “0″ dibelakangnya -___-


Holiday In Action: Ritual Baru (Bali-Lombok 2011)

Buat catatan saja bagi para pembaca, artikel ini berisi cerita saya mengenai perjalanan untuk berlibur ke Bali dan Lombok dengan gaya backpacker, pada awal bulan Juli 2011. (Telat juga saya baru ngepost cerita ini sekarang, but it’s still worth to read)

Mengapa liburan? Pertanyaan pertama,

Mengapa liburan ke Bali dan Lombok? Pertanyaan kedua,

Mengapa saya ganteng dan macho, ibarat Lee Min Ho sesudah operasi plastik pake minyak goreng? (lho??)

Liburan itu penting lho. Karena saya sedang tidak ngapa-ngapain kala itu. Jadi ceritanya setelah saya selesai magang (dan stress gila) di akhir bulan Juni, mulailah terpikirkan untuk refreshing sejenak sebelum berpulang ke Jogjakarta dan disibukkan dengan perkara Tugas Akhir alias skripsi. Rencana punya rencana, salah satu kawan magang saya, yakni Tegar, sudah berencana untuk bersama dua orang teman masa SMAnya untuk berpergian ke Bali. Kenapa ke Bali? Karena ada salah satu teman mereka yang sudah bekerja di BMKG Denpasar, dan mengontrak di kawasan Jimbaran. Jadi selain alasan nostalgia dan liburan, juga karena sudah ada akomodasi penginapan gratis, Bali menjadi pilihan liburan Tegar.

Mendengar itu, saya menjadi tertarik untuk ikut bersama. Namun sebenarnya saya tidak begitu kepengen banget ke Bali. Lah gimana enggak, sejak masa kecil di Surabaya, pasti liburan keluarga dihabiskan di Bali, yang notabene terdapat famili kami yang bertempat tinggal di Denpasar, tepatnya kawasan Monang-maning. Total sudah 7 kali saya ke Bali, dan terakhir kalinya adalah saat studi tur SMP tahun 2006. Intinya sudah bosan pergi ke Bali.

Tapi Tegar bilang begini, “Ntar dari Bali, kita lanjut langsung ke Lombok, mumpung dari Bali jadi lebih dekat. Plus kapan lagi sih kita bisa pergi ke Lombok backpackeran?”

Hooo……Gar, you had a brilliant idea!!

Diputuskan bahwa kami berdua fix untuk berliburan ke Bali dan Lombok dengan gaya backpackeran.

Akhir Juni, sekitar tanggal 24, Tegar bersama satu orang temannya dari Semarang, berangkat ke Bali menggunakan bus AKAP. Saya masih tinggal di Surabaya seorang diri untuk mengurus honor dari PT.Waskita Karya. Setelah honor diterima, inginnya sih saya langsung berangkat dengan akomodasi yang nyaman. Secara, uang lumayan sudah di tangan plus ijin dari orang tua juga sudah di dapat. Tapi kemudian terlintas pikiran hemat nan licik (Paman Gober lewat di otak), “gimana kalo lo berangkat sehemat-hemat mungkin, biar lo bisa senang-senang (baca: minum-minum, ngedrunk, party, hedon) di Bali sama Lombok?” Buset dah, ini otak soal hedon, emang langsung lancar oksigennya yang masuk supaya efektif dalam berpikir soal ginian (buat klarifikasi, otak saya gak di selangkangan).

Akhirnya, saya memesan tiket KA Mutiara Selatan Kelas Bisnis seharga 75 ribu dengan tujuan Ketapang-Banyuwangi. Aslinya sih kepengen naek KA Sri Tanjung, tapi kemudian mikir-mikir kalo ntar gak bisa tidur selama perjalanan. Sebagai info, kedatangan KA Mutiara Selatan dan Sri Tanjung hampir bersamaan di Stasiun Gubeng Surabaya, hanya beda setengah jam. Tapi jam kedatangan di Banyuwangi bisa beda 3 jam, logis bila saya memilih Mutiara Selatan walaupun agak mahal.

Sesampai di Stasiun Gubeng jam 9 malam, KA Mutiara Selatan belum tiba. Yang ada KA Sri Tanjung yang akan diberangkatkan. Sambil ngerokok, saya duduk-duduk menunggu di peron. Bawaan saya juga terbilang ringan, hanya tas ransel sedang merk Bodypack, yang isinya 5 helai baju, 2 celana pendek, sejumlah celana dalam (rahasia ya berapa jumlahnya), dan alat mandi. Kemudian saya juga membawa tas pinggang kecil merk Eiger, yang isinya HP, kamera, Charger, buku travel ke Lombok, plus sejumlah uang receh. Benar-benar bekal perjalanan untuk gaya ransel, sebuah pengalaman pertama bagi saya untuk berlibur.

Sambil menunggu kereta datang, ibu-ibu yang duduk di sebelah saya tiba-tiba tanya ke saya, “Mas, sampeyan nunggu Mutiara Selatan ke Banyuwangi ya?” Respon saya, “Ya bu, ada apa ya?” Balas ibu itu, “Masnya bisa saya minta tolong, ini kakak saya beserta anak-anak saya juga sama naik Mutiara Selatan, jadi saya mau titip mereka ke mas supaya bisa bantu pas keretanya datang” Jawab saya, “Oh iya bu, gak masalah. Ntar saya pasti bantu.”

Begitu ibu itu pergi, dia meninggalkan tanggung jawab untuk menolong seorang ibu agak tua, 3 orang anak kecil, dengan bawaan kardus yang sangat berat (isinya buku pelajaran), kepada seorang asing di peron stasiun. Hehehe orang Indonesia masih percaya tepo seliro itu masih hidup, buktinya saya beneran bantu angkat 2 kardus berat ke dalam gerbong kereta mereka. Setelah mereka sudah mendapat tempat duduk, langsung ibu tua itu nyalami saya dan berterimakasih atas bantuan saya. Ketiga anak kecil langsung mencium tangan saya. Dalam hati, ini ya kenikmatan membantu dengan ikhlas tanpa diduga? Tidak ternilai harganya walaupun tanpa imbalan uang.

Sesudah itu, saya langsung duduk di gerbong dan tempat duduk yang sesuai tiket. Dan langsung terlelap tidur, sampai-sampai tidak tahu kapan kereta berangkat. Belum berangkat dari Stasiun Gubeng, saya sudah begitu menikmati perjalanan liburan kali ini. Bukan senang-senang, melainkan perasaan bahagia bahwa bisa menolong orang lain tanpa pamrih. Dalam hati pun, langsung terbesit, pokoknya liburan gaya backpacker seperti ini harus menjadi ritual baru dalam kehidupan saya. Karena banyak pengalaman berharga yang bisa saya dapatkan selama perjalanan tersebut.

Akan berlanjut di postingan berikutnya…….berangkat menuju Bali!!! (eeh, ke Banyuwangi dink)


Tim Futsal Labil Proyek Gunawangsa

Sekedar sharing dari kegilaan penulis ketika magang di Surabaya

Tim futsal harus punya seragam

Nama Tim: Gunawangsa United

Berdiri: Maret 2011

Pemilik: Pak Aris (Kapro Waskita) >>mbayari terus soalnya hehehe

Stadion: Kadang depan kantor, kadang lapangan proyek, paling sering di Fantasy Futsal (lapangan non-standar futsal>>panjang banget!!)

Motto: “yang penting seneng, seger, waras”


Working In Action: Terima Kasih Waskita Karya!

Saran Creatizz: Ini tulisan agak serius dikit tapi ga ngawur

28 Juni 2011

Lengkap sudah 4 bulan saya kerja magang di proyek Apartemen Gunawangsa, yang dikerjakan oleh kontraktor PT.Waskita Karya. Benar-benar sebuah perjuangan, demi Tugas Akhir, dan pada akhirnya demi masa depan. Walaupun ini sebuah perjuangan yang terkadang melelahkan, namun masa magang ini telah menjadi masa berharga bagi saya untuk tumbuh dewasa. Dengan artian, bahwa saya (dan ketiga kawan) benar-benar digembleng oleh Waskita untuk siap turun di dunia kerja konstruksi setelah lulus. Adapun pandangan baru yang saya serapi dalam perjalanan magang bahwa dunia kerja sangat berbeda jauh dengan dunia kuliah.

Walaupun banyak sekali ilmu baru yang bisa saya ambil, namun saya masih merasa kecil di hadapan dunia kerja. Belum siap. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkannya. Namun kini, ada rasa kepercayaan diri bahwa pengalaman serta ilmu dari magang ini membuat kami (saya dan ketiga kawan saya) merasa ada peningkatan nilai jual diri kami saat akan melamar kerja. Betapa tidak, kerja magang di UGM (khususnya Jurusan Teknik Sipil & Lingkungan) bukanlah suatu kewajiban layaknya Kerja Praktek di jurusan atau kampus lain. Melainkan sebuah pilihan. Mahasiswa diperkenankan untuk memilih magang sebagai Jalur Tugas Akhir Skim B.

Sayang sekali dirasa bila magang hanya menjadi sebuah pilihan. Namun bagaimana lagi. Dewasa ini, sudah jarang mahasiswa Teknik Sipil yang ingin untuk magang. Padahal sebenarnya mereka akan sangat butuh sebelum melangkah ke dunia kerja. Mahasiswa Teknik Sipil saat ini sudah nyaman dengan memilih Tugas Akhir lewat penelitian. Entah penelitian laboratorium atau analisis struktur. Tapi apakah dari melakukan sederet penelitian akan membantu mahasiswa untuk berkompeten dalam dunia kerja konstruksi. Bila ingin berprofesi menjadi dosen, memang benar. Namun bila ingin berprofesi sebagai praktikan konstruksi (seperti kontraktor, konsultan, atau PU), saya bisa katakan dengan jelas, TIDAK.

Bukan ingin menghina atau mengejek kawan-kawan mahasiswa yang memilih meneliti. Tidak ada maksud untuk ke arah itu. Namun saya ingin memberikan pandangan baru kepada kawan-kawan. Jangan pernah naif. Dunia kerja itu jauh lebih keras daripada dunia kuliah. Kita ini bukanlah apa-apa saat masuk. Prestasi akademis dan IPK bukan jaminan untuk bisa diterima di perusahaan bergengsi. Yang lebih dibutuhkan oleh perusahaan adalah: Pengalaman Kerja.

Saya tidak berlebihan. Mengapa? Karena artikel ini terinspirasi oleh kata-kata dari para senior di proyek Apartemen Gunawangsa. Merekalah, para staff PT.Waskita Karya, yang sering bercerita. Tidak ada unsur mengada-ada dari semua kalimat yang dibuat dalam artikel ini.

Maka bagi para mahasiswa yang bingung (jurusan apa saja) untuk magang atau tidak, saya sarankan untuk memilih magang. Inilah kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman kerja. Saat magang, kita benar-benar bekerja, diberi deadline, diberi tanggung jawab, dan diberi honor. Beda dengan Kerja Praktek, yang mana menurut saya hanyalah observasi lapangan semata.

4 bulan ini sangat berarti. Kami tidak hanya mendapatkan pengalaman, namun hubungan dan relasi yang sangat baik dari segenap staff kantor proyek. Terutama oleh Kepala Proyek, Bpk Ir. Aris Wijayanto, dan Kepala Teknik, Bpk Ir.Sata Kumara. Mereka berdua yang selalu memotivasi dan menginspirasi kami, mahasiswa, untuk berpikiran lebih maju. Dan juga kepada 15 staff bagian Teknik, bagian Pelaksana, bagian SDM, bagian Logistik, K3LM, bahkan para driver mobil kantor. Terima kasih sudah menerima kami sebagai bagian dari keluarga kecil di kantor. Terima kasih yang selalu mengajak kami bermain futsal tiap Malam Minggu (gratis pula). Terima kasih yang sering mengajak kami nonton bola bareng di kantor. Terima kasih juga selalu mengajak kami makan2 bersama (di Hanamasa lagi). Tidak cukup kata terima kasih yang keluar dari saya untuk mengekspresikan perasaan ini.

TERIMA KASIH PT.WASKITA KARYA

Foto Bersama seluruh staff Teknik

tribute to: Pak Aris, Pak Sata, Pak Didik, Pak Firman, Pak Jatmiko, Pak Rasmin, Pak Berkah, Mas Agung, Mas Fajar, Mas Rofii, Mas Zian, Mas Rajiv, Dek Imam, Mbak Merry, Mbak Rina, Pak Her, Mas Ony, Mas Hendra, Mas Hendro, Pak Ali, Mas Arif, Mbak Maya, Mas Youga, Pak Heri, Pak Nanang, Pak Iwan, Pak Warto, Mas Iwan, Pak Gatot, Mas Didik driver, Mas Arif driver, dll….


Jenazah Blog Jadul

Blog ini bukan pertama kalinya saya ngeblog. Sama dengan pacar sekarang ini bukan pertama kalinya berpacaran dengan cewek. Miss you babe!

Dahulu, saat masih SMA, saya sempat ngeblog. Waktu itu tipe blog yang saya pilih adalah blogspot. Mengapa?

Actually, I’m a Google’s addict nerd. Email yang saya gunakan sejak 2004 adalah Gmail (tahun ke 2 kemunculan Gmail). Bahkan 90% aktivitas saya saat online adalah surfing di Google (saya yakin, pengalaman ini berlaku bagi penghuni dunia internet juga). Hingga sekarang saya masih setia kepada Google, beserta segala produknya (kecuali Yahoo!Messenger….. no offense Larry Paige). Android pun sudah dalam rencana pengeluaran saya bulan depan (iPhone is sucks dude!!!).

Anyway, I’m used blogspot at that time ’cause it’s more easy and simple to customize. For me, WordPress’s too smart for my brain. Hell yeah, my brain’s size is less than a nut at that time.

Sekarang saya pindah menggunakan WordPress karena sudah mudah di customize (and my brain’s is growing bigger now!!). Kembali lagi ke topik, (alm.) blog saya bernama KAMPOENG. Saya lumayan kecanduan ngeblog waktu itu, tepatnya kemudian berakhir ketika saya aktif dalam Kaskus.us dan dunia perkuliahan. Namun inilah awal dari sebuah jaman saya bisa eksis. Inilah Jaman Permulaan.

Satu prinsip ngeblog yang saya pakai pada saat itu, adalah blog untuk go international (yeah, I know, Agnes Monica stole my idea). Jadi bahasa yang saya pakai untuk menulis postingan adalah Bahasa Inggris (pengennya bahasa Zimbabwe, tapi takutnya harus komunikasi pake bahasa Tarzan, repot kan?). Nekatnya, kemampuan bahasa Inggris saya saat SMA sangat pas-pasan (my brain’s size is less than a nut!). So, karena kebelet pengen eksis (dan pipis), maka saya memakai jurus terlarang. Yakni jurus copy-paste. Rata-rata korbannya adalah artikel hasil subscribe saya dari Greenpeace via email. Alhasil jurus ini mulai membuahkan hasil. Mulai satu per satu visitor datang berkunjung, rata-rata dari luar Indonesia (terbukti bahwa jarang orang Indonesia saat itu mau membaca blog dengan bahasa Inggris atau asing). Bahkan Rusia, Monako, hingga pelosok Afrika Selatan pun ada.

Jaman Keemasan

Suatu saat, saya memposting salah satu artikel saya dalam thread di forum Kaskus.us pada awal kuliah. Tak diduga artikel yang berisi mengenai profil Greenpeace dan videonya, dikunjungi banyak kaskuser dan menjadi HOT THREAD gan!! Mulai saat itu, banyak sekali blog visitor yang berkunjung dari Indonesia. Buah dari usaha copy-paste inipun sangat manis. Google adsense memberikan cek sebesar US$ 10 lewat rekening saya! Langsung saja saya tukarkan di money changer sebesar 96.780 rupiah, yang habis sekejap untuk traktiran di kantin.

Sekilas mengenai jumlah dan persebaran negara blog visitor saat itu,

Namun jaman keemasan tersebut harus berakhir. Mengapa? Ya biasalah persoalan anak muda. Males-malesan, ngampus, pacaran, ngegame, intinya blog saya sudah tak terurus. Hingga saya tinggalkan terbengkalai dan menjadi bangkai di Google. Apalagi saya menyadari bahwa copy-paste tidak membuat saya merasa eksis dan bangga terhadap blog saya. Bahkan saya tidak mendapat sesuatu yang berharga dari metode tersebut (bahasanya bos, mbois!!).

Jaman Phoenix

Kemudian saya memulai lagi blog CREATIZZ ini dengan satu prinsip, orisinil! Semua postingan cerita yang ada dalam blog ini adalah pengalaman dan pemikiran pribadi saya sendiri. Bila ada copy-paste, pasti akan saya sebutkan sumbernya atau penulisnya. Biarpun harus melangkah lagi dengan beberapa ratus visitor, saya merasa bangga dengan blog ini. Blog CREATIZZ ini adalah phoenix-ku, kebangkitanku untuk menulis dan membagi.

Selamat membaca! :)


Working In Action: Nilai “b” Asalnya Dari Mana, Mas?

Derr….!!!

Akhirnya pertanyaan itu tiba juga. Jujur saja, pertanyaan tadi terucap dari Kepala Teknik kantor tempatku magang, dan saya sudah mengira bahwa pertanyaan ini akan terucap juga. Perasaan ketakutan itu ada. Takut untuk menjawab, bukan itu. Takut untuk memberikan jawaban “tidak tahu pak”.

Malu juga untuk bercerita. Sehari sebelumnya, saya diberi tugas untuk menghitung penulang pelat lantai kamar mandi. Awalnya, pede bercampur keringat. PD karena saya merasa pernah diajari saat kuliah Perancangan Bangunan Teknik Sipil – Gedung (isih anget neng utek). Keringat karena kepanasan (lho??).

Berbekal semangat ’11 (tahun 1945 dah kadaluarsa), saya langsung bergerak. Bergerak mencari buku-buku kuliah, modul kuliah, SNI, dan segalanya. Tak lupa, Mbah Google harus diberi kemenyan dulu, sebelum ritual browsing. Searching-searching-browsing-surfing-downloading-tweeting-trolling-pusing, pendek kata, terselesaikan juga tugas tersebut (semalam bro, dah persis lagu Cinta Satu Malam).

Dengan PD yang masih tersisa sedikit (dan keringat yang tersisa banyak), saya kumpulkan tugas tersebut di atas meja Sang Penjagal…eh, ups, maksudnya Sang Kepala Teknik. Dalam hati, berat rasanya berpisah kepada 2 helai kertas berisi hitungan hasil print Ms. Excel itu. Serasa meninggalkan kekasih tercinta, yang sudah susah payah pedekate untuk mendapatkannya. Tapi apa daya, hai hitungan yang jelita, kakanda hanyalah seorang mahasiswa magang biasa. Sang bos adalah puncak dari rantai makanan di kantor ini. Kutinggalkan engkau, agar dapat dipelihara dengan baik dan manis di antara semua selir-selir kertas yang bertumpuk di atas mejanya.

Good bye, my love.  (Sedikit melankolis-agak ngayal)

Satu keraguan setelah selang beberapa menit kemudian.

Kalo gak salah, di situ ada variabel “b” yang gua gak tahu asalnya darimana. Itu apa, siapa, mengapa, bagaimana cara datangnya, sungguh gua gak tahu. Lah cuma ngopi-ngopi aja dari referensi. Buset dah, ntar kalo ditanyain gimana tuh??

Udahlah. Biarin aja deh, kata hati kecil saya. Masih banyak pekerjaan lain yang menumpuk untuk diselesaikan.

Keesokan harinya.

“Mas, nilai “b” ini kok bisa 1000 mm. Asalnya dari mana?”

Alarm otak pun berteriak. Seluruh sel-sel yang tertidur pun bangun. Semua langsung siaga di posnya masing-masing. Memegang senjata. Dan langsung memutar otak, supaya jawaban tadi bisa terjawab dalam waktu singkat. Maka inilah laporan dari sel-sel otak saya:

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Namun sel-sel goblok saya juga yang paling bergerak cepat. Ditambah lambe ini, yang isinya pengen buka terus.Keluarlah kalimat terkutuk tersebut.

“Saya tidak tahu pak”

Wassalam. Saya disuruh ngelembur untuk memperbaiki hitungan tersebut. Plus jadi bahan gojegan di kantor.

“Masak anak sipil UGM jawabnya tidak tahu. Gimana nih”

“Gak tahu apa angka fiktif tuh”

Setelah itu, malam ini, saya jadi teringat pada sebuah pepatah terkenal….

“Makanya belajar”- a famous quotation from a lecturer at Gadjah Mada Civil Engineering


Working In Action: Bekerja Sampai Larut Malam

Menjelang malam, masih mengawasi pengecoran

Menjelang malam, masih mengawasi pengecoran

Truk Molen siap menuang beton cor ke bucket
Truk Molen siap menuang beton cor ke bucket
Bucket terisi beton, diangkat oleh Tower Crane
Bucket terisi beton, diangkat oleh Tower Crane
Terlihat selang dari bucket atau Bucket Tipping
Terlihat selang dari bucket atau Bucket Tipping
Dari ketinggian tersebut, dilakukan pengecoran vertikal pada kolom
Dari ketinggian tersebut, dilakukan pengecoran vertikal pada kolom
Para pekerja menaiki begesting kolom, bersiap "memvibrasi" beton cor
Para pekerja menaiki begesting kolom, bersiap “memvibrasi” beton cor

Beton masuk ke dalam begesting kolom, pekerja mengendalikan vibrator
Beton masuk ke dalam begesting kolom, pekerja mengendalikan vibrator

Foto-foto diatas merupakan salah satu cerita saya dalam menjalani magang di Proyek Apartemen Gunawangsa. Ada satu kesamaan antara bekerja dan kuliah. Bila besok pagi hari adalah deadline pengumpulan tugas, maka mahasiswa-mahasiswa (seperti saya ini :P) rela bergadang bahkan rumah teman di pucuk gunung pun disambangi. Bekerjapun sama, bila schedule hari ini adalah pengecoran kolom tertentu, maka sampai malam pun harus tetap bekerja. Sampai semua kegiatan pengecoran tuntas.

Bedanya antara kuliah dan bekerja, deadline tugas tidak setiap hari ada. Bekerja, hampir setiap hari ada deadlinenya!!! Lembur sudah menjadi makanan sehari-hari. Pulang jam 9 itu kesorean, paling malam bisa jam 1 baru menyentuh bantal di kos. Sebenarnya peraturan perusahaan di PT. Waskita Karya, jam kerja dari 08.00-17.00. Tapi kenyataannya hanya pegawai wanita yang pulang seperti itu. Bagi kita, para pria perkasa, masih terus melanjutkan pekerjaan kita. Enak bila nglembur cuma duduk di kantor ber-AC, menghadap komputer, ngutak-atik gambar AutoCAD. Gimana ceritanya kalo kita dapat jatah bekerja di project’s site? Sudah tempat duduk tidak ada, agak gelap (walau lampu proyek terangnya setengah mati), belum panasnya Surabaya. Komplit derita.

Ikhlas saja sih bila tiap hari melembur. Apalagi ada uang lembur. Tapi itu mah bagian pegawai tetap proyek. Kita? Mahasiswa magang? Ya cuma pasrah dan harus rela ikut melembur. Itung-itung sebagai bagian menambah pengalaman dan skill untuk bekerja sebenarnya (inilah yang namanya alibi pelarian).


Working In Action: Cerita Mahasiswa Mencoba Bekerja

Kondisi lapangan proyek (bagian podium)

Sekilas mengenai aktivitas saya akhir-akhir ini. Hanya sekedar membagi beberapa foto tempat saya magang saat ini. Tepatnya di Proyek Apartemen Gunawangsa Surabaya yang dikerjakan oleh PT. Waskita Karya (persero).

Project’s Site di Minggu ke -1 Bulan April sampai terkini

This slideshow requires JavaScript.


Shelter Pengungsi Merapi di Cangkringan: Sebelum & Sesudah

Erupsi Merapi 2010

Setelah kejadian erupsi Merapi di bulan November, saya diikutkan dalam tim surveyor PU Prov DIY untuk meninjau langsung calon lokasi shelter. Keseluruhan lokasi shelter berada di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Saya tidak mengetahui secara jelas dan tepat lokasi shelter tersebut (sebenarnya saya pernah punya datanya, tapi sudah diolah oleh PU). Jadi saya bagikan saja foto-foto lokasi tersebut, baik sebelum (saat disurvey) dan sesudah (setelah ada kompleks shelter).

Lokasi yang disurvey (sebelum):

This slideshow requires JavaScript.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 196 other followers